Minggu, 03 April 2016

Bisakah Leicester City jadi 'juara' di Thailand?

1 April 2016
Leicester CityPendukung Leicester City bersorak menyambut gol ke gawang Crystal Palace.
Leicester City berada dalam posisi favorit menjuarai Liga Primer Inggris musim ini.
Perubahan mereka dari klub kecil di kawasan Midlands Inggris menjadi kekuatan global amat tampak di Thailand, negeri yang menjadi tuan rumah bagi pemilik klub tersebut.
Musim lalu, ketika klub ini harus bersusah payah menghindar degradasi, toko suvenir klub itu di pusat kota Bangkok sepi pengunjung.
Deretan seragam mereka terpajang di toko, tak ada yang menyentuh, dan pertandingan cuma ditonton staf toko yang menganggur karena tak ada satu pun pelanggan.
Pemilik klub itu, King Power, mati-matian berusaha menarik hati penggila bola di Thailand dengan menjual suvenir Leicester City di Bandara Internasional Bangkok, di toko duty free mereka, yang dilalui oleh 50 juta pengunjung setiap tahun.Leicester City Barang-barang Leicester City di toko bebas bea King Power mulai dicari pelanggan.
Boleh saja King Power mendominasi bandara, tapi di luar, mereka tak bisa menggeser dominasi Manchester United, Chelsea dan Liverpool.
Tapi sekarang, Anda tak bisa membeli kaos seragam Leicester City di Thailand karena semua terjual habis. King Power harus meminta para penggemar untuk memesan langsung dari Inggris.

Tertinggal

Prestasi Leicester telah memikat penggila bola di Thailand yang menggemari klub lain.
"Saya penggemar Liverpool, tapi diam-diam mendukung Leicester agar mereka juara Liga Primer," kata Sorrapat Sriparn.
Bersamanya, Suphancai Ketbeungkan yang sudah lama menjadi pendukung Chelsea juga mengaku terinspirasi oleh klub berjuluk The Foxes itu.
Namun agar pemilik Leicester bisa memenangkan hati pecinta sepakbola di Thailand, mereka tampaknya harus berusaha lebih keras.Vichai SrivaddhanaprabhaVichai Srivaddhanaprabha (kiri) bersama putranya ketika membeli Leicester City tahun 2010.
Akhir tahun lalu, Leicester memulai klinik sepak bola dengan menghadirkan legenda sepak bola Thailand, Kiatisak 'Zico' Senamuang ke beberapa sekolah sepak bola di Thailand, dan beberapa murid diseleksi untuk diberangkatkan ke Inggris.
Namun jika dibandingkan dengan Arsenal yang punya sekolah sepakbola yang mapan di Thailand, mereka tertinggal jauh.
"Prestasi Leicester memang mengesankan bagi para pecinta sepakbola," kata komentator Aekarach Kengtooktang. "Tapi mereka harus bekerja lebih keras agar punya basis pendukung di sini. Tim besar seperti Manchester United dan Liverpool berhasil melakukan itu karena prestasi mereka selama puluhan tahun. Ini adalah momen bersejarah di Liga Inggris, tapi kita masih harus menunggu."

Invasi Thailand

Sepak bola termasuk olahraga utama di Thailand, dan banyak pengusaha kaya Thailand membeli klub sepakbola di Inggris.Phra Prommangkalachan Pendeta Phra Prommangkalachan secara rutin berkunjung ke Inggris untuk memberkati lapangan di King Power Stadium, markas Leicester City.
Tren ini dimulai ketika bekas perdana menteri Thaksin Shinawatra membeli Manchester City di tahun 2007, tapi kemudian menjualnya lagi setahun kemudian.
Perusahaan bir Thailand, Chang, telah menjadi sponsor bagi klub Everton sejak tahun 2004. Tahun 2010, pengusaha toko bebas bea King's Power membeli Leicester City tahun 2010.
Selain itu, perusahaan pengolah makanan laut Thailand juga membeli klub Sheffield Wednesday, dan sebuah konsorsium Thailand lain membeli klub Reading.
King Power kini memanfaatkan peningkatan popularitas Leicester City, dengan menyediakan makan gratis dan bir untuk menonton pertandingan di markas klub di Bangkok setiap pertandingan besar.
Para pendukung Leicester yang menonton -mereka menyebut diri Siamese Foxes alias Rubah dari Siam- didorong oleh sikap patriotik melihat klub yang dimiliki orang Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, berjaya di Liga Inggris.
Semua kini bergantung pencapaian Leicester dalam tujuh pertandingan terakhir di Liga Inggris.
Pembelian seharga £39 juta dan investasi mereka sebanyak £100 juta sejak pembelian itu, tampaknya mulai membuahkan hasil.

Tidak ada komentar: