Jumat, 23 September 2016

Dimas Kanjeng Taat Pribadi Jadi Tersangka Tiga Kasus

 
dimas-kanjeng-taat-pribadi
BEGITU berhasil ditangkap, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, langsung dikeler ke Polda Jatim.  Dimas Kanjeng dan dua pengikutnya yang ditahan tiba di Polda Jatim  pukul 09.30 dengan mengendarai 2 unit mobil rantis.
Ketiganya ditempatkan terpisah. Dimas Kanjeng dibawa di mobil rantis yang pertama dan dua pengikutnya dibawa dengan mobil rantis kedua.  Sampai di Polda Jatim, mereka  bertiga langsung dibawa ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda jatim.
Setibanya di Ditreskrimum, Dimas Kanjeng dibawa ke ruang pemeriksaan. Dia langsung diapit oleh Kasubdit 3 Jatanras  AKBP Taufik Herdiansyah. Baik Dimas Kanjeng, serta dua  pengikutnya tidak banyak berkomentar terkait penangkapan mereka. Mereka langsung masuk ruangan sambil digiring.
Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol  Drs Anton Setiadji menjelaskan, penggerebekan di Padepokan  Dimas Kanjeng Taat Pribadi  berhasil mengamankan tiga orang. “Yang diamankan dari  Probolinggo ada tiga orang.  Satu berstatus tersangka sedangkan dua masih saksi,” ujarnya.
Yang telah menyandang sebagai tersangka adalah Dimas Kanjeng Taat pribadi. Sedangkan dua lainnya, saksi. Yakni, Sapi’i dan satu orang yang namanya  masih dirahasiakan.  “Untuk yang satu lagi juga saksi. Namun, kami belum bisa menyebutkan namanya,” ujarnya.
Dimas Kanjeng sendiri menurutnya, diamankan terkait dugaan keterlibatan dalam kasus pembunuhan Abdul Ghani. Namun pemeriksaan terhadap Dimas Kanjeng belum pernah dilakukan, karena panggilan tidak pernah diindahkan. Sampai akhirnya, kemarin (22/9)  dilakukan penangkapan paksa terhadap Dimas Kanjeng.
Penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pemilik Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi bermula dari dua kasus penemuan mayat. Yakni, jenazah Ismail Hidayah, warga Kabupaten Situbondo dan Abdul Ghani, warga Semampir, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Jenazah Ismail Hidayah ditemukan di Desa Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, pada 4 Februari 2015. Namun, kala itu jenazah  ini masih disebut Mr X karena  tanpa identitas.  Ismail merupakan wirausahawan yang bergerak dalam bidang jual beli pakaian.
Di luar kesibukan itu, Ismail pengurus di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi sejak 2010. Di padepokan itu, Ismail memegang jabatan cukup penting. Lalu pada 14 April 2016, Abdul  Gani, 40, ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan.
Mayat yang dikenal sebagai bos perhiasan batu mulia itu, ditemukan di bawah Jembatan Kedung Areng, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Saat pertama ditemukan, petugas Polres Wonogiri sempat kesulitan mengidentifikasinya. Namun, akhirnya diketahui bahwa korban adalah Abdul Gani.
Dia juga anggota Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Kasus pembunuhan Abdul Gani lantas ditangani Polda Jatim. Sedangkan, kasus Ismail  Hidayah ditangani Polres Probolinggo. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan Polda  Jatim dan Polres Probolinggo,  pembunuhan pada dua korban  diduga diotaki orang yang sama.
Jumlah pelakunya 22 orang dan  75 persen anggota Padepokan  Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Polda Jatim kemudian menangkap 7 tersangka yang terlibat pembunuhan Ismail Hidayah. Satu di antaranya meninggal di tahanan, karena sakit, Sabtu   (25/6) sekitar pukul 18.30 WIB.
Dia adalah Etto Sutaye warga Desa Rejing, Kecamatan Tiris,  Kabupaten Probolinggo. Enam terduga lainnya ada Mishal Budianto alias Sahal, 48, warga Wangkal, Kecamatan Gading. Dia disangka terlibat pembunuhan Ismail Hidayah.
Usai menangkap Sahal, polisi mengamankan enam lainnya. Yaitu, Kurniadi, 50, warga Mlirip, Kecamatan Jetis, Mojokerto;  Tukijan, 50, warga Guntung  Manggis, Kecamatan Landasan  Ulin, Banjarmasin; Wahyu Wijaya,  50, warga Wangkal, Kecamatan   Gading.
Lalu, Samsudi warga Liprak, Kecamatan Banyuanyar;  Ahmad Suyono, warga Kelurahan  Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya. Mereka ditahan di Mapolda Jatim.   Sementara, pelaku pembunuhan Abdul Gani, ada enam tersangka yang ditahan.
Saat ini, polisi memburu lima tersangka lain. Namun, namanya masih dirahasiakan. Dari hasi penyelidikan polisi, Abdul Ghani di duga dihabisi di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sehingga, polisi juga membekuk Dimas Kanjeng.
Bahkan, polisi sampai menetapkan Dimas Kanjeng masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), berdasarkan surat nomor: DPO/45/IIX/2016/ Ditreskrimum, tanggal 21 Sep-  tember 2016. Dasarnya, laporan polisi nomor: LPB/17/IV/2016/Jateng/Res Wi, tanggal 14 April  2016 dan laporan polisi nomor: LPA/162/VI/2016/Jatim/RES-PROB, tanggal 6 Juni 2016.
Sehingga, keluar Surat Perintah Membawa Nomor: SPMS/2669-B/  III/2016/Disreskrimum, tanggal  26 Juli 2016. Serta, Surat Perintah  Penangkapan nomor: SP- KAP/157/IX/2016/Ditreskrimum, tanggal 10 September 2016.
Dalam kasus Abdul Ghani, Dimas Kanjeng diduga melakukan tindak  pidana dengan sengaja menyuruh dan direncanakan terlebih dahulu merampas nyawa orang lain. Sehingga, diancam karena pembunuhan berencana sebagaimana dimaksud Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP  juncto Pasal 55 dan 56 KUHP.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Dimas Kanjeng ditetapkan menjadi tersangka tiga kasus. Kasus pembunuhan Ismail Hidayah dan Abdul Ghani. Serta, ada kasus penipuan.
Dari tiga kasus ini, kasus Ismail Hidayah ditangani Polres Probolinggo. “Dia dijemput paksa karena sudah berkali-kali dipanggil tidak datang. Sehingga, dijemput paksa,” ujarnya. (radar)

Tidak ada komentar: