Sabtu, 24 September 2016

Modus Pembunuhan di Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi

Hasil gambar untuk abdul gani taat pribadi
Informasi yang dihimpun, modus pembunuhan tersebut diduga diawali dengan sikap korban yang akan membongkar rahasia padepokan yang diasuh oleh Taat Pribadi.
Sebelum dibunuh, korban diberi pinjaman uang. Untuk menyerahkan uang tersebut, korban dipanggil ke salah satu ruangan di padepokan tersebut.
Saat uang diserahkan, pelaku yakni Wahyu Wijaya dan kawan-kawannya yang diduga suruhan Taat Pribadi ini memukul dan menjerat leher korban hingga tewas pada April 2016.
Akibat perbuatannya,Taat Pribadi dijerat Pasal 340 jo Pasal 55 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman 15 tahun sampai hukuman mati.


Hasil gambar untuk abdul gani taat pribadi

aktifis LPPNRI Probolinggo Diduga Dibunuh

Sementara itu saat masih hidup,
Abdul Gani, telah didengarkan keterangannya di kantor Subdit Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri  di Jl Trunojoyo Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Sebagaimana surat panggilan Nomer: S.Pgl/1070-Subdit-I/IV/2016/Dit-Tipidum. Saksi tersebut adalah Ainul Yaqin SY (59)  asal Kota Probolinggo telah memberikan keterangan tentang sepak terjang PDKTP, Senin (12/4).
Dia menyatakan jika telah menjadi korban PDKTP  sejak tahun 2007-2012, dan sejak tahun tahun terakhir keluar dari PDKTP. Dia tidak berani pulang ke tempat kelahirannya (Dringu Probolinggo, Jawa Timur) karena takut dibunuh suruhan PDKTP.
“Dulu saya pernah didatangi 4 orang suruhan PDKTP,  yang mengatas namakan Tim Pelindung PDKTP pimpinan Pri Cs. Mereka mengncam akan menghabisi saya jika coba-coba membuka aib PDKTP…!,” tegasnya.Sepak terjang harus secepatnya di diakhiri, karena PDKTP itu jelas menipu santri-santrinya. Karena di padepokan itu, tidak ada uang.
Jika padepokan mengadakan santunan yang digembar-gemborkan santunan untuk 10 ribu orang itu, sebenarnya tidak. Tapi hanya 700 orang saja.Hanya tetangga dekat padepokan dan uangnya minta ke santri-santri yang jumlahnya mencapai 25 ribu dorang dan wajib setor mahar minimal Rp 100 ribu bagi santri biasa dan bagi tim minimal ditarik mahar Rp 1 jutaan.“Selebihnya dari dana tersebut dibuat beli hektaran tanah, tambak dan rumah mewah untuk istri-istri mudanya….!,” cetusnya.
Menurut Ainul, Kanjeng TP selain punya istri bernama Nyi ARH, juga LK yang sekarang dibelikan rumah di Kebonagung – Kraksaan dan Ll di Patokan Kraksaan
 Abdul Gani di mata PDKTP
“Tapi Allah sungguh Maha Adil, telur busuk versi PDKTP itu yang dengan menghalalkan segala cara mereka melenyapkan seseorang, ternyata bau busuknya justru menempel pada mereka sendiri sekarang…” Demikian ungkap istri aktifis LPPNRI Situbondo, Abdul Gani, melalui WA Nomer +628155967xxxx, Senin (25/4). Menurutnya, “sudah hal yang pasti, pembunuh Alm. Abdul Gani adalah padepokan. Yang menghajar dan membuang ke waduk itu pasti orang-orang suruhan Pria TP dan MB. Sebagai pemberi perintah.Apapun Alibi yang mereka (PDKTP–red) berikan, tetap tidak akan mampu menutup mata santri-santri lama….

Padepokan berusaha keras lempar batu (sembunyi tangan—red), tapi sayang batu itu justru mengenai mereka sendiri sekarang. Pri dan TP selalu gembar gembor menyebut pejuang lama padepokan sebagai “telur busuk yang wajib mereka ciduk dan buang jauh”.
Ismail Hidayah mereka ciduk karena mereka anggap Ismail Hidayah sebagai telur paling busuk. Sekarang Abdul Gani mereka habisi karena telah menjadi telur busuk buat pekarangan mereka…!”
Ternyata di balik tewasnya aktifis LPPNRI Probolinggo, Abdul Gani (43) warga Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan Probolinggo, Jawa Timur yang jasadnya ditemukan di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, masih menyisakan tanda tanya besar.
Apa benar orang nomer satu di PDKTP Desa Wangkal Kecamatan Gading Probolinggo Jawa Timur yang gembar-gembor di sejumlah media baik elektronik maupun cetak, bisa mengeluarkan uang triliunan rupiah hanya dengan sekali tepuk ini, takut sepak terjangnya terungkap Bareskrim Polri?

Tidak ada komentar: