Kamis, 22 September 2016

Padepokan Dimas Kanjeng Digrebek Polisi, Eh..Berani Melawan

 Kabid Humas Polda: Taat Pribadi Otak Pembunuhan

Kamis, 22 September 2016 - 10:26
Kabid Humas Polda: Taat Pribadi Otak Pembunuhan Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng, Ta\'at Pribadi (kaus ungu) saat ditangkap polisi (foto: Istimewa)
TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Taat Pribadi sebagai pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng telah ditangkap. Penangkapan itu merupakan buntut dari kasus pembunuhan Abdul Gani, santri padepokan.
BACA JUGA: Polisi Gerebek Padepokan Kanjeng Dimas
Warga Jl Pattimura gang 1, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo itu, ditemukan tewas terbunuh, di Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, April lalu.
“Tersangka ini merupakan otak dari kasus pembunuhan tersebut. Sebelumnya, pak Taat ini sudah dipanggil untuk menghadap penyidik. Namun, dia tidak pernah hadir," katanya kepada wartawan.
Karena terus mangkir, polisi menetapkan Taat Pribadi dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), Rabu (21/9/2016) malam. "Akhirnya ia sekarang kami tangkap,” tambahnya di lokasi padepokan Dimas Kanjeng.
Dalam surat penetapan DPO yang diterima TIMESIndonesia disebutkan, Abdul Gani dibunuh karena dianggap akan membongkar rahasia padepokan. Modusnya, Gani diiming-imingi diberi pinjaman uang.
Dalam kasus ini, Taat Pribadi disangka melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider pasal 338 KUHP joncto pasal 55,56 KUHP. Begitu ditangkap, Dimas Kanjeng dibawa ke Mapolda Jatim. (*)

Lima Teman “Sahal” Ditangkap


 

KRAKSAAN – Mishal Budianto alias Sahal, 48, ternyata bukan satu-satunya anggota Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang ditangkap Polres Probolinggo terkait kasus pembunuhan. Selain Sahal, ada lima anggota padepokan lain yang kini sudah jadi tersangka kasus pembunuhan.
Kelima orang itu adalah Kurniadi, 50, warga Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Mojokerto; Tukijan, 50, warga Desa Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarmasin; Wahyu Wijaya, 50, warga  Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.
Selanjutnya, Samsudi, warga Desa Liprak, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo serta Ahmad Suyono, warga Kelurahan  Manukan Kulon, Kecamatan  Tandes, Surabaya. Kelima orang itu juga menunjuk Muhammad Sholeh sebagai kuasa hukumnya
Diketahui, Sholeh juga merupakan kuasa hukum dari tersangka Sahal yang terlilit kasus pembunuhan Ismail Hidayah, warga Panarukan, Situbondo, yang juga mantan pengurus padepokan setempat. Sholeh menyebut, saat ini kelima orang itu ditahan di Mapolda Jatim bersama Sahal.
Dalam berita acara penahanan dijelaskan, jika mereka ditangkap karena diduga terlibat dalam kasus pembunuhan berencana. “Mereka juga anggota padepokan,” katanya. Namun, Sholeh tidak mengetahui dengan pasti kasus pembunuhan mana yang  disangkakan dilakukan oleh kelima kliennya tersebut.
“Saya tidak tahu apa mereka ditahan karena diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Abdul  Ghani (bos perhiasan batu mulia yang juga mantan anggota Padepokan Dimas Kanjeng) atau kasus pembunuhan Ismail Hidayah,” jelasnya.
Sholeh menyebut, BAP penahanan lima terdakwa itu tak jelas. Berbeda dengan penahanan Sahal yang disebutkan terkait pembunuhan di Tegalsono pada Februari 2015 silam. Pembunuhan  yang melilit Sahal itu  adalah penemuan mayat tanpa identitas di Tegalsono yang belakangan diduga adalah Ismail  Hidayah.
diakui Sholeh, lima tersangka itu memang mengenal Ismail Hidayah  dan Abdul Ghani yang ditemukan tewas di sungai kawasan Wonogiri. Mereka kenal, karena dulu pernah sama-sama berada di padepokan yang sama.
Terpisah, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin membenarkan penahanan kelima   orang itu. Menurutnya, mereka ditahan karena diduga  terlibat dalam pasal 340 tentang  Pembunuhan Berencana. Namun, perwira polisi dengan dua melati di pundaknya itu enggan  menjelaskan kelimanya terkait   kasus pembunuhan yang mana.
“Maaf, demi kepentingan penyidikan, saya tidak dapat mengatakannya,” terang mantan Kasubdit  III Polda Metro Jaya ini.(radar)
Pewarta : Muhammad Iqbal
Editor : Khoirul Anwar
Publisher : Rochmat Shobirin

Tidak ada komentar: