Sabtu, 03 September 2016

Copot Sutiyoso,Tunjuk BG jadi kepala BIN, Jokowi jatuh di lubang yang sama

Alasan Jokowi Copot Kepala BIN Sutiyoso

Alasan Jokowi Copot Kepala BIN Sutiyoso
Kepala BIN, Sutiyoso, dan Jaksa Agung M. Prasetyo bersama Samadikun Hartono setelah tiba di Jakarta, Kamis malam, 21 April 2016. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc/16.)
VIVA.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengirimkan surat penggantian Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sutiyoso akan digantikan oleh Wakapolri Komjen Pol. Budi Gunawan (BG).
Alasan penggantian kepala BIN oleh Jokowi menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno adalah perlunya regenerasi. Tak ada alasan khusus termasuk kurangnya performa Sutiyoso.
"Itu regenerasi biasa aja. Argumentasinya regenerasi saja," kata Pratikno di Gedung DPR, Jakarta, Jumat 2 September 2016.
Sementara Ketua DPR, Ade Komarudin mengatakan setelah menerima surat dari Presiden Jokowi, mereka akan segera melakukan rapat pimpinan (rapim) untuk menindaklanjuti ihwal tersebut.
"Tentu kami akan rapat juga dengan fraksi-fraksi," kata Ade Komarudin.
Politikus Partai Golkar itu mengatakan, Komisi I juga akan menindaklanjuti dengan segera menjadwalkan uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon pengganti Sutiyoso yang diajukan Jokowi itu.
"Akan ditentukan jadwal (uji kepatutan)," kata Ade lagi.
Reporter : Randy Ferdi Firdaus | Jumat, 2 September 2016 20:05
Tunjuk BG jadi kepala BIN, Jokowi jatuh di lubang yang sama
Budi Gunawan. ©2015 merdeka.com/imam buhori
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Nama BG sudah diajukan oleh Jokowi ke DPR untuk dilakukan uji kepatutan dan kelayakan di Komisi I DPR.

Namun penunjukkan BG sebagai calon Kepala BIN mendapat penolakan. Bahkan sudah ada kelompok LSM yang menamakan diri mereka Koalisi Masyarakat Tolak BG (KMTB).

KMTB akan menggalang sejuta tanda tangan untuk menolak mantan ajudan Presiden kelima Megawati Soekarnoputri menjadi Kepala BIN.

"Presiden Jokowi ini ibarat kata menjatuhkan diri dalam lubang yang sama. Jokowi pernah keras menolak BG jadi Kapolri karena berbagai dugaan korupsi antara lain dugaan korupsi dalam kapasitasnya sebagai Kepala Biro Pembinaan Karir Deputi SSDM Mabes Polri tahun 2004-2006 dan jabatan lainnya di Kepolisian RI dan masuk dalam daftar Jenderal polisi dengan rekening gendut," kata Juru Bicara KMTB Muhammad Adnan dalam siaran pers kepada merdeka.com, Jumat (2/9).

Dua kasus di atas, kata dia, sampai hari ini di petieskan karena tekanan dan intervensi kekuasaan yang kuat dari berbagai kekuatan politik dengan memakan dua korban dua pimpinan KPK saat itu yakni Abraham Samad dan Bambang Widjojanto.

"Dengan berbagai kasus yang membelitnya maka BG sebenarnya sangat tidak layak menduduki sebuah posisi sangat penting dan strategis dari sebuah lembaga negara yang menjadi mata dan telinga presiden," tutur dia.

Untuk itu, lanjut dia, kelompok masyarakat dan pemuda dari Koalisi Masyarakat Tolak BG (KMTB) akan bersama-sama rakyat tegas meminta DPR RI menolak BG menjadi kepala BIN.

"KMTB akan membangun gerakan sejuta tanda tangan tolak BG jadi Kepala BIN yang akan di mulai pada Minggu pagi (4/9) di Bundaran HI yang nantinya di sampaikan Ke DPR RI sebagai aspirasi rakyat Indonesia," pungkasnya.
[rnd]

Tidak ada komentar: