Selasa, 04 Oktober 2016

4 Kapal Pembangkit Listrik Turki Segera Tiba di Indonesia

Jum'at, 30 September 2016 | 11:29 WIB
4 Kapal Pembangkit Listrik Turki Segera Tiba di Indonesia  
Kapal Pembangkit Listrik Marine Vessel Power Plant (MVPP) `Karadeniz Powership Zeynep Sultan` bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 8 Desember 2015. Kapal tersebut berkapasitas 120 Megawatt. TEMPO/Frannoto
TEMPO.CO, Jakarta - Empat kapal pembangkit listrik atau Marine Vessel Power Plant (MVPP) yang akan dikontrak Indonesia dari perusahaan Karpowership Turki akan segera diberangkatkan secara bertahap menuju Indonesia sampai awal Januari 2016.

Menurut Koordinator Pengembangan Bisnis Karpowership Group Sibel Yucel di Istanbul, Turki, Kamis, 29 September 2016, kesiapan dua kapal pembangkit berkapasitas terpasang masing-masing 110 megawatt sudah mencapai 90 persen sehingga pada akhir Oktober 2016 sudah bisa diberangkatkan ke Indonesia.

Sekitar 18 wartawan dari Indonesia menyaksikan mesin pembangkit listrik di dua kapal itu dirakit di Galangan Kapal Hatzan, Yelova, Istanbul. Keduanya diberi nama Yasin Bey Karpowership dan Gokhan Bey Karpowership yang akan ditempatkan di Ambon dan Lombok.

Sedangkan dua kapal lain dikerjakan di Galangan Kapal yang berbeda, tapi masih di sekitar Istanbul.
Kapal pembangkit listrik terbesar yang dipesan Indonesia berukuran panjang 300 meter dengan kapasitas terpasang 470 megawatt untuk ditempatkan di Belawan, Medan. Kapal yang memasuki tahap akhir penyelesaian di Galangan Kapal Sefel itu akan diberangkatkan ke Indonesia akhir Desember 2016 dan tiba di Belawan akhir Januari 2017.

Kapal serupa untuk tujuan penempatan di Kupang juga diperkirakan selesai awal Januari 2017, tapi kapasitas terpasangnya hanya 110 megawatt.

Indonesia menandatangani kontrak pembelian listrik dari Karpowership untuk lima titik distribusi, yaitu Belawan, Mataram, Ambon, Kupang, dan yang sudah beroperasi di Amurang, Sulawesi Utara. Harga beli listrik yang disekapati Rp 1.850 per KWh.

Pembangkit apung itu disewa PLN selama jangka waktu lima tahun dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik karena banyak daerah mengalami defisit listrik.

Kapal pembangkit itu bisa memasok listrik selama lima tahun tanpa henti karena mempunyai turbin di atas sepuluh unit dan hanya memasok sekitar 80 persen dari kapasitas terpasang. Keunggulan pembangkit buatan Turki itu bisa beroperasi selama dengan dua bahan bakar, yaitu jenis heavy fuel oil dan gas, serta memiliki titik interkoneksi di sisi tegangan tinggi, 70 kV/150 kV.

Presiden Joko Widodo berkeinginan pembuatan kapal pembangkit keenam serta perakitan mesin pembangkit listriknya bisa dilakukan di Indonesia sehingga Indonesia mempunyai kemampuan membuat kapal pembangkit dengan kapasitas besar. ANTARA

Tidak ada komentar: