Minggu, 02 Oktober 2016

Ada sholawat "fulus", Salat "riyadul qubri,” Taman Kuburan di Padepokan Dimas Kanjeng

Sabtu, 01 Oktober 2016 | 07:06 WIB 
Pasca penangkapan Taat Pribadi, banyak fakta mengejutkan terkuak. Salah satunya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo menemukan bahwa ada sejumlah penyimpangan agama yang diajarkan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
Ketika menyisir padepokan, MUI setempat bersama MUI Jawa Timur menemukan sholawat fulus atau sholawat untuk menggandakan uang.

Informasi yang beredar di lokasi menyebutkan bahwa pengikut padepokan ini kerap melantunkan sholawat fulus usai melaksanakan sholat wajib.
Ketua MUI Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori mengungkapkan sholawat fulus sendiri berbunyi seperti ini, 'Allahuma sholli ala sayyidina muhammadinil mabngu fi sholatan tadribu biha amwalu wal fulusu wa mal busu wal mad u’mu biadadin wanafasin bainahum ya fa ihun ya rajiun.'
" Jika diartikan kurang lebih seperti ini, ya Allah beri rahmat kepada Nabi Muhammad dengan sholawat dan rahmat yang bisa melipatgandakan harta, uang, pakaian, makanan dengan napas yang dihembuskan di antara mereka kembali, tapi ini kami masih kaji, kenapa harus ada seperti ini," ujarnya.
Ada Salat Taman Kuburan di Padepokan Dimas Kanjeng  
Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ishomuddin
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo menerima aduan korban penipuan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Korban pelapor tersebut mengungkapkan sejumlah barang ritual penggandaan uang dan tata cara ibadah salat yang diduga menyimpang dari syariat Islam.“Ada salat yang disebut salat riyadul qubri,” kata Wakil Ketua Komisi Bidang Fatwa MUI Kabupaten Probolinggo Ahmad Banawir, Jumat, 30 September 2016. Jika diartikan, riyadul qubri adalah taman kuburan. “Kami enggak tahu maksudnya apa kok salatnya dinamai seperti itu,” ujarnya.

Banawir mengatakan, dalam salat dua rakaat tersebut, diwajibkan melafalkan kata bahasa Arab “hu” atau subyek “dia” sebanyak 41 kali setelah membaca surat Al-Fatihah dalam setiap rakaat. “Ini sudah menyimpang. Dalam hadis nabi tidak ada yang mengajarkan seperti itu,” ucapnya.
Apalagi, menurut Banawir, subyek “dia” tersebut bukan ditujukan kepada Allah. “Tapi ditujukan kepada Dimas Kanjeng Taat Pribadi, mungkin agar pengikutnya mengingat dia terus,” katanya.

Meski sudah ada indikasi menyimpang, MUI Probolinggo menyerahkan keputusan kepada MUI Pusat. “Nanti MUI Pusat yang akan mengeluarkan fatwa secara nasional,” kata Sekretaris Umum MUI Kabupaten Probolinggo Syihabuddin Sholeh.

Taat Pribadi, pemimpin Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Probolinggo, Jawa Timur, ditangkap polisi karena menjadi dalang pembunuhan dua bekas anak buahnya dan melakukan penipuan bermodus penggandaan uang. Selain itu, Taat diduga mengajarkan ajaran yang menyimpang dari syariat Islam.

ISHOMUDDIN

Tidak ada komentar: