Kamis, 27 Oktober 2016

Apakah Cristiano Ronaldo Tak Tertandingi Rebut Ballon D’Or?

Apakah Cristiano Ronaldo Tak Tertandingi Rebut Ballon D’Or?Sayup-sayup gaung Ballon D’Or 2016 mulai terdengar dan Cristiano Ronaldo tampak tak punya alasan untuk gagal menggondolnya.

GOAL OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR     Ikuti @rezahikmatyar di twitter
“Jika bukan Lionel Messi, pasti Cristiano Ronaldo,” itulah pernyataan yang kemungkinan besar selalu kita dengar tatkala sebuah penghargaan individu bagi pesepakbola dunia digelar. Ya, nyaris dalam sedekade terakhir kedua “Alien” itu saling bergantian menggondol penghargaan sebagai pemain terbaik tahunan.
Paling bergengsi sekaligus paling kentara bisa kita lihat dari gelaran Ballon d’Or. Sejak 2008, hanya Messi dan Ronaldo yang sanggup meraihnya. La Pulga dengan lima trofi, sementara CR7 memiliki tiga trofi.
Sedikit saja salah satu di antara keduanya “lengah”, maka sang rival dipastikan bakal jadi pemenang. Kini, bila melihat performa keseluruhan sepanjang musim 2015/16 lalu, mudah disimpulkan bahwa Ronaldo akan mengalahkan Messi.
Pertanyaan mengemuka, apa Cristiano Ronaldo lantas tak tertandingi rebut Ballon d’Or 2016? Mari kita kupas secara perlahan, alasan yang membuat sosok 31 tahun itu sulit dibendung untuk jadi pemenang.
Selayaknya pemain besar, Ronaldo yang tak tampil maksimal di awal musim menuai kritik habis-habisan dari banyak pelaku sepakbola. Meski sanggup menorehkan penta gol dalam duel kontra Espanyol, dirinya mandul di enam dari tujuh jornada awal La Liga Spanyol musim 2015/16.
Banjir kecaman tak berhenti, walau di paruh pertama musim Ronaldo sanggup mencetak 14 gol. Gelontoran gol-nya dinilai tak signifikan lagi membantu klubnya, Real Madrid, kembali meraja di Negeri Matador.
Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, Ronaldo secara kejam bahkan dicap sudah habis. "Semua orang tahu dia sudah bekerja keras hingga bisa seperti sekarang. Saya pikir penampilan puncaknya sekitar satu atau dua tahun lalu. Dia tetap dipandang sebagai striker hebat. Tapi saya merasa pengaruhnya di Madrid sudah berkurang, maka dari itu saya bisa bilang Ronaldo sudah habis,” tutur pandit sepakbola terkenal asal Spanyol, Guillem Balague, pada Sky Sports.
Namun Ronaldo untuk kesekian kalinya mampu membungkam kritik. Ia bangkit secara luar biasa di paruh musim kedua, bertepatan dengan ditunjuknya Zinedine Zidane sebagai pelatih kepala Madrid menggantikan Rafael Benitez.

Seakan mengamuk, Ronaldo berhasil menambah koleksi golnya di La Liga menjadi total 35 gol. Performa heroik yang paling dikenang adalah saat menorehkan quat-trick dalam kemenangan 7-1 atas Espanyol dan sumbangsih satu golnya kala Madrid berjaya di Camp Nou dalam duel legendaris El Clasico. Sayang kebangkitannya sedikit terlambat karena Los Blancos akhirnya gagal jadi kampiun, meski sanggup mengikis defisit poin menjadi hanya sebiji saja dari sang juara, Barcelona.
Terlepas dari kesialan di La Liga -- yang mana selain urung juara, Ronaldo juga gagal jadi El Pichichi -- aksi luar biasanya justru hadir di ajang bergengsi Liga Champions. CR7 yang jadi pahlawan di fase grup dengan 11 gol, berperan lebih vital di fase gugur.
Ronaldo memulainya dalam bentrok hadapi AS Roma di babak 16 besar. Sepasang golnya meloloskan Madrid dengan agregat telak 4-0. Performa yang lebih fantastis kemudian ditunjukkan di perempat-final kontra VfL Wolfsburg. Los Galaticos yang kalah 2-0 pada leg pertama, secara ajaib lolos ke semi-final setelah membalikkan agregat menjadi 3-2 di leg kedua berkat hat-trick Ronaldo!
Mental juara Ronaldo kemudian berbicara di babak semi-final dan final. Dibekap cedera yang serius, ia ngotot ingin merumput sampai melakukan perawatan pribadi guna pulih lebih cepat. Hasilnya memang sesuai harapan, tapi hal itu harus diakui memengaruhi performanya.
Hingga partai puncak Ronaldo tak sanggup mencetak gol, tapi ia menunjukkan mengapa dirinya layak disebut sebagai pemain besar. Mental juara, membuat pengaruhnya di atas lapangan jadi krusial. Hal itu ditegaskannya secara masif tatkala sukses mengeksekusi penalti kemenangan Liga Champions, dalam babak adu tos-tosan kontra Atletico Madrid.
Ronaldo menyudahi kompetisi sebagai juara, sebagai top skor dengan 16 gol, juga mempertahankan statusnya sebagai top skor sepanjang turnamen lewat catatan 93 gol. “Ronaldo mengawalinya sebagai juara, juga mengakhirinya sebagai juara,” sanjung rekan setimnya, Lucas Vazquez, seperti dikutip Cadena SER.

Kisah terpuruknya Ronaldo di awal, tapi akhirnya berjaya di level klub seakan terulang di timnas. Jadi kapten Portugal di putaran final Euro 2016, ia diremehkan bahkan tak ada yang menganggap negaranya sebagai unggulan turnamen.
Segalanya hampir jadi kenyataan. Portugal tampil begitu buruk di babak fase grup, senada dengan Ronaldo yang sampai gagal mengeksekusi penalti di matchday perdana. Tapi untuk kesekian kali, mantan pujaan Manchester United itu bangkit di saat yang tepat.
Cristiano Ronaldo tampil luar biasa di matchday pamungkas fase grup untuk loloskan Portugal, menstimulasi gol emas Ricardo Quaresma di babak 16 besar, begitu tenang dalam babak adu penalti di perempat-final, hingga jadi pemupus langkah Tim Kuda Hitam, Wales, di semi-final.
Namun, kisah antiklimaks nyaris saja jadi akhir memilukan Ronaldo di partai final. Baru tampil 25 menit menghadapi sang tuan rumah, Prancis, Ronaldo secara tak terduga menderita cedera dan harus ditarik keluar. Ia menyerah? Tidak sama sekali.
Ronaldo justru jadi aktor krusial di pinggir lapangan untuk memotivasi Portugal menaklukkan final. Ajaib, Seleccao pun meraih hasil spektakuler dengan jadi kampiun Euro 2016! Ya, prestasi tunggal Negara Pelaut di ajang akbar sepakbola. "Portugal pantas memperoleh ini, setelah pengorbanan bertahun-tahun. Tidak ada yang percaya pada kami! Saya telah memenangkan segalanya dengan klub. Saya akhirnya bisa memberi sesuatu untuk timnas,” ujar Ronaldo semringah, seperti dikutip laman resmi UEFA.

Jadi kampiun Liga Champions yang disandingkan dengan gelar Piala Eropa. Hal fantastis seperti ini tak terjadi setiap saat dan tentu hanya sedikit pemain yang bisa melakukannya. Ronaldo kini jadi satu dari sedikit pesepakbola yang sanggup merasakan prestasi akbar ini.
Secara individual dan di usianya yang semakin menua, Ronaldo pun tetap konsisten. Ia mampu memperpanjang rekornya untuk mencetak lebih dari 50 gol semusim, yang kini sudah menginjak musim keenam beruntun. Total dari 55 penampilannya sepanjang musim 2015/16, dirinya berhasil menceploskan 54 gol dan 18 assist.
Karenanya, apa yang mengharuskan Ronaldo merelakan Ballon d’Or 2016? Pesaing terdekatnya seperti Messi, Luis Suarez, Antoine Griezmann, hingga rekan setimnya, Gareth Bale, harus diakui tak memiliki musim sehebat dirinya.
Bahkan salah satu kompetitornya, Griezmann, sudah memastikan bahwa Ronaldo bakal jadi pemenang Ballon d’Or 2016. “Ballon d’Or 2016? Ayolah, mari katakan penghargaan itu sudah selesai sebelum digelar. Ronaldo memenangkan dua ajang akbar tahun ini, ia pasti akan meraihnya,” ujar bintang Atletico dan Prancis itu, seperti dikutip Goal Internasional.
Kisi-kisi berjayanya Ronaldo di Ballon d’Or 2016 sudah tampak dari rilis final nominasi pemain terbaik UEFA 2016, di mana ia disandingkan dengan Griezmann dan Bale. Merangkum performanya sepanjang musim lalu, akan jadi lelucon besar jika Ronaldo sampai urung menampakkan senyum kemenangan di atas podium nanti.

Tidak ada komentar: