Rabu, 05 Oktober 2016

Eks Pengikut ini Ngaku Diam-diam Ambil Uang 'Gaib' Dimas Kanjeng, Ternyata Palsu

Ghazali Dasuqi - detikNews
Situbondo - Meski sempat loyal, MA Junaidi (50), akhirnya memilih keluar dari perkumpulan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Keputusan itu diambilnya pada tahun 2014 setelah melihat adanya indikasi penipuan. Salah satunya, melalui tumpukan yang palsu yang digunakan Taat Pribadi untuk mengecoh para pengikutnya.

"Kalau uang yang ada di depan Kanjeng itu saya akui asli, karena berasal dari uang santri. Tapi yang disusun seperti roti itu kemungkinan palsu semua," tandas Junaidi di rumahnya, di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo, Senin (3/10/2016).

Kecurigaan itu muncul setelah Junaidi bersama Ismail Hidayah, eks pengikut yang tewas dibunuh pada Februari 2015 lalu, berkunjung ke Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, pada tahun 2014 silam. Junaidi dan Ismail disuruh mengambil selembar uang oleh Taat Pribadi. Namun, si Kanjeng ini mewanti-wanti agar Junaidi mengambil uang yang ada di depannya.

"Tapi, waktu Dimas Kanjeng menoleh, saya langsung menarik selembar uang Rp 100 ribuan dari tumpukan uang yang ada di samping itu. Setelah dites, ternyata uang itu palsu. Sejak saat itu, saya mulai tidak percaya dan curiga ini modus penipuan," papar Junaidi.

Pria berperawakan kekar ini ikut Dimas Kanjeng 4 tahun. Dia tahu persis aktifitas di padepokan, kemudian melapor ke polisi lantaran uang sebanyak Rp 205 juta yang diserahkan ke padepokan belum ada kejelasan sampai sekarang.

Foto: Ghazali Dasuqi/detikcomFoto: Ghazali Dasuqi/detikcom

Junaidi menjelaskan, tidak hanya di bungker-bungker dalam padepokan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan uang Dimas Kanjeng, melainkan beberapa gudang di beberapa daerah.

"Di setiap rumah istrinya, mulai dari istri pertama, kedua, dan ketiga, itu ada bungker penyimpanan uang. Selain itu, Dimas Kanjeng juga menyewa gudang di luar padepokan," kata Junaidi

Menurut Junaidi, sedikitnya ada 2 lokasi penyimpanan uang di luar padepokan yang diketahuinya. Masing-masing, sebuah gudang di daerah Ketapang, Probolinggo dan gudang di daerah Bangil, Pasuruan. Pria 50 tahun itu mengaku pernah diajak oleh Dimas Kanjeng saat memindah uangnya ke dua lokasi tersebut.

"Saya diajak bersama almarhum Pak Ismail. Waktu itu mindah uangnya pakai mobil boks. Dimas Kanjeng dikawal 2 pengikutnya. Satu kali ke Ketapang dan satu kali ke Bangil. Kalau yang ke bungker dalam padepokan sudah berkali-kali," kenang pria yang juga pendiri sebuah NGO Anti Korupsi di Situbondo itu.

Foto: Ghazali Dasuqi/detikcom 
Foto: Ghazali Dasuqi/detikcom

Dua lokasi penyimpanan uang milik Taat Pribadi tersebut, lanjut Junaidi, juga selalu dijaga. Sedikitnya 5 orang pengikut yang setiap hari mendapatkan piket jaga dua gudang penyimpanan uang tersebut. Junaidi yakin kalau uang yang disimpan dalam gudang itu uang asli, karena berasal dari uang para santri.

"Kalau jumlahnya saya tidak tahu," tukas Junaidi yang pernah maju sebagai cawabup dalam Pilkada Situbondo tahun 2010 lalu itu.
(fat/try)

Tidak ada komentar: