Kamis, 06 Oktober 2016

Heboh Foto Kanjeng Dimas Bersama Presiden Jokowi dan Panglima TNI



Hasil gambar untuk jokowi dimas kanjeng 
Presiden Jokowi bersama Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Foto: Dok. Twitter
Kabarkan.net – Media sosial Twitter tengah heboh dengan foto selfie Panglima TNI, Gatot Nurmantyo dengan tersangka pelaku penggadaan uang, Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Banyak yang menduga, Panglima adalah anak buah Kanjeng Dimas.
Saat dikonfrimasi, Jenderal Gatot membantah jika dirinya adalah anak buah Kanjeng Dimas. Dia menyebut dirinya kerap kerap dimintai foto bersama banyak kalangan masyarakat.
“Ya seperti biasanya saya sering diminta untuk foto selfie, ya masa saya menolak?” Ujar Gatot usai berziarah di makam Jenderal Soedirman di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, Rabu (28/9).
Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku berusaha untuk melayani permintaan foto selfie dengan banyak kalangan masyarakat. Mulai dari wartawan, tokoh negara, tokoh agama, hingga tokoh spiritual.
Dia mengaku tak mengenal siapa Kanjeng Dimas. Nama tersebut baru diketahuinya lewat pemberitaan media. “Kalau wartawan enggak kasih tahu, saya enggak tahu,” imbuhnya.
Kanjeng Dimas Taat Pribadi ditahan atas kasus dugaan pembunuhan muridnya. Saat ini kasusnya masih ditangani Polda Jawa Timur dan dilakukan penahanan. Dari kasus tersebut, terungkap klaim praktik penggandaan uang yang dilakukan Taat. Pihak kepolisian membantah jika santri atau anak buahnya Kanjeng Dimas tidak ada dari kalangan pejabat.
“Tidak ada santri dari kalangan pejabat, termasuk petinggi Polri dan TNI. Jadi bisa saja foto itu hanya untuk kepentingan tertentu,” kata Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin.
Berdasarkan pendataan Polres Probolinggo, Dimas Kanjeng memiliki ribuan pengikut dari berbagai penjuru Indonesia. Latar belakang mereka bervariasi, mulai dari masyarakat biasa, PNS, hingga anggota TNI/Polri.

Foto Kanjeng Dimas dan Panglima TNI GatotFoto Kanjeng Dimas dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo
Kembali ke soal foto, Arman mengatakan, “Bisa saja, foto-foto atau banner Dimas Kanjeng bersama sejumlah pejabat yang terpampang di area padepokan hanya hasil rekayasa.”
Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin meminta masyarakat untuk waspada dan tidak mudah mempercayai foto-foto Dimas Kanjeng bersama beberapa pejabat TNI, Polisi, hingga Presiden RI Jokowi yang beredar luas di media sosial sekarang ini.
Foto-foto pengasuh, guru besar, sekaligus pemilik Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi patut dipertanyakan.
“Jangan mudah percaya dulu. Foto-foto itu harus diteliti lebih dulu sama ahlinya, asli atau tidak foto itu,” katanya , Kamis (29/9/2016) pagi.
Ia pun tampak meragukan keasliannya foto-foto tersebut.
“Bagi saya ada yang janggal dalam foto ini. Saya melihat ada upaya penggabungan antara foto Dimas Kanjeng dan pejabat, tapi harus dibuktikan dengan ahli digital forensik untuk melihat sejauh mana keasilannya,” terangnya.
Foto-foto tersangka kasus dugaan otak pembunuhan mantan dua pengikutnya itu memang tersebar luas di media sosial. Apalagi, pihak padepokan juga sengaja menyebar luaskan foto Dimas Kanjeng ini. Tujuannya, agar semakin banyak orang yang menjadi pengikut Dimas Kanjeng.
Informasinya, foto-foto inilah yang dijadikan senjata Dimas Kanjeng dalam mencari pengikut selain video penggandaan uang yang tersebar luas di YouTube. Foto ini yang menjadikan Dimas Kanjeng dipercaya banyak orang bahwa banyak tamu yang datang ke padepokannya.
Selain itu, foto itu juga dipamerkan dalam kalender tahunan yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Dusun Cengkalek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo tahun 2016.

Foto-foto itu dipasang di sebelah tulisan visi dan misi berdirinya yayasan ini. Dalam kalender itu, terlihat Dimas Kanjeng terlihat berfoto bersama Presiden Jokowi di Istana Presiden. Selain itu, ada juga foto Dimas Kanjeng bersama Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan foto Dimas bersama mantan Kapolri Badrodin Haiti.
Tidak hanya itu, pihak yayasan juga sengaja memasang foto-foto Dimas Kanjeng bersama pejabat ini di majalah dinding (mading) padepokan.
Mading ini berada di depan kantor yayasan. Jadi, siapa pun tamu padepokan yang datang ke kantor yayasan atau mau ke masjid akan melihat mading ini.
Dalam mading itu, ada beberapa foto Dimas bersama pejabat.
Salah satunya, foto kunjungan pejabat TNI yakni Kasdam V Brawijaya V/Surabaya. Ada juga foto Dimas Kanjeng bersama pejabat polri dan masih banyak lagi.
Sayangnya, dalam foto itu tidak ada caption nama ataupun pangkat dalam foto.
Tidak ada kejelasan kapan foto itu diambil dan lokasi pengambilannya. Bahkan, tidak ada kejelasan siapa pejabat yang datang ke padepokan, hanya dijelaskan kunjungan dari TNI ataupun polisi dan sebagainya.

Seskab Bantah Dimas Kanjeng Taat Pribadi Dekat dengan Jokowi

Rabu, 5 Oktober 2016 | 18:41 Wib
JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Kabinet Pramono Anung membantah Dimas Kanjeng Taat Pribadi memiliki hubungan dekat dengan Presiden Joko Widodo.
Ia juga membantah foto Dimas Kanjeng bersama Jokowi merupakan bukti kedekatan keduanya.
"Masyarakat datang ke Istana, salaman dengan Presiden atau Wakil Presiden, pasti banyak. Namanya Presiden ya menerima siapa saja," ujar Pramono, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (5/10/2016).
Lagi pula, Dimas Kanjeng Taat Pribadi bukan pendukung Presiden Joko Widodo saat Pemilu Presiden 2014 lalu.
"Kalau ditelusuri, yang jelas saat Pilpres lalu, Dimas Kanjeng itu bukan bagian dari pendukung Pak Jokowi," ujar Pramono.
Ia sendiri tidak mengetahui kapan Dimas Kanjeng datang ke Istana dan berfoto saat bersalaman dengan Presiden Jokowi.

Pramono mengatakan, segala klaim terkait kedekatan Dimas Kanjeng dengan Presiden Jokowi tidaklah benar.
"Enggak ada urusan Istana dengan yang begitu-begitu, apalagi menggandakan uang. Wong kita enggak percaya dengan apa yang dilakukan," ujar Pramono.
Di media sosial, beredar foto Taat Pribadi tengah bersalaman dengan Presiden Joko Widodo.
Di samping Presiden, tampak juga Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam foto itu, ada keterangan "Presiden Joko Widodo Sedang Menyambut Guru Besar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Istana Negara".

Tidak ada komentar: