Rabu, 12 Oktober 2016

Mengapa Dimas Kanjeng 'Sukses'?

Dhimas Prasaja,
Dalam foto kliping berita tertanggal 24 Februari, Dahlan Iskan terlihat menyematkan jas ke Taat Pribadi.
Liputan6.com, Surabaya - Padepokan Dimas Kanjeng di Dusun Cangkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mendadak terkenal belakangan ini. Pemimpin padepokan, Dimas Kanjeng Taat Pribadi, terjerat kasus dugaan pembunuhan dan penipuan bermodus penggandaan uang.

Kasus terakhir ini yang lebih menarik perhatian khalayak luas. Pengikutnya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia meyakini sang guru bisa menggandakan uang. Tayangan dokumentasi berikut cerita-cerita mitosnya menambah keyakinan itu.

Banyak juga warga dari berbagai daerah rela menyetor uang dengan harapan bisa digandakan berkali-kali lipat. Dalam praktiknya, banyak kasus yang menunjukkan uang tidak tergandakan, justru utang yang mencekik.
Mengapa orang-orang itu percaya?

Suko Widodo, pakar komunikasi sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik  Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengatakan, budaya hedon dan enggan bekerja keras menjadi faktor utama penyebab terhadap orang yang mudah tergiur dengan iming-iming tak masuk akal.

"Sebagian orang berpikir untuk meraih kekayaan dengan cara yang instan, dan hasilnya bisa digunakan untuk menopang gaya hidup yang lebih tingggi," kata dia kepada Liputan6.com di Surabaya belum lama ini.

Terkait kultur ini, ada peran media juga dalam pengembangannya. "Biasanya ajakan hedonis ini disampaikan melalui aktor yang berperan sebagai orang yang kaya tapi tanpa menjelaskan proses yang jelas untuk menjadi kaya," kata Suko.

Tayangan di televisi misalnya, sejumlah sinetron maupun iklan secara tidak langsung mempromosikan gaya hidup hedonis. Iklan produk menampilkan hal-hal yang serba instan.

"Apa yang disampaikan melalui media massa itu berpotensi masuk ke alam bawah sadar manusia dan memengaruhi karakternya," ucap Suko.

Di ranah pendidikan, menurut dia, para mahasiswa yang suka copy paste saat membuat tugas kuliah, termasuk golongan orang-orang yang malas seperti ini. Budaya instan itu akan semakin mudah masuk ke kehidupan manusia seiring kemajuan teknologi informasi.

Sementara itu, psikolog Bagus Ani Putra menilai kondisi masyarakat yang mengalami "materialistic value oriented" (MVO) atau menghargai materi secara berlebihan itu menyuburkan fenomena Dimas Kanjeng.

"Itu sebenarnya bukan fenomena baru, namun MVO itu terjadi sejak era industrialisasi atau sekitar tahun 1970-an," kata ahli psikologi sosial dari Universitas Airlangga itu, dilansir Antara.

Menurut dosen Fakultas Psikologi Unair itu, MVO menggerus nilai-nilai sosial bangsa Indonesia, seperti gotong royong, sukarela (tanpa pamrih), dan "gugur gunung" (kerja bakti bersama).

"Nilai-nilai itu sudah digantikan dengan materi sebagai ukuran, karena itu fenomena Dimas Kanjeng pun terjadi terus-menerus, meski tidak pernah ada yang terbukti, seperti uang logam Bung Karno, uang Brazil, peti Nyai Roro Kidul, dan semacamnya," kata Bagus.

Tidak ada komentar: