Kamis, 27 Oktober 2016

Pilkada Jakarta dan 'Kutukan' Nomor Urut

, CNN Indonesia
Pilkada Jakarta dan 'Kutukan' Nomor Urut (Dari kiri ke kanan) Perwakilan Ahok-Djarot, Agus-Sylvi, Anies-Sandi menerima surat penetapan pasangan Calon Pilkada DKI Jakarta (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada cerita 'kutukan' di balik nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Kutukan itu melekat pada pasangan calon bernomor urut satu. Sore nanti, warga Jakarta akan mengetahui siapa pasangan calon yang bakal mewarisi nomor tersebut.

Kutukan pada nomor urut satu telah terjadi sejak 2007 lalu ketika pemilihan gubernur DKI Jakarta dilakukan secara langsung untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, tak satu pun pasangan calon yang mendapat nomor urut satu berhasil keluar sebagai pemenang Pilkada DKI Jakarta.

Pasangan calon yang merasakan kutukan nomor urut satu untuk kali pertama adalah pasangan Adang Darajatun-Dani Anwar yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera.

Saat itu, Adang-Dani yang tak menghadiri acara pengundian nomor urut di KPU DKI Jakarta mendapat nomor urut satu setelah pesaingnya, pasangan Fauzi Bowo-Prijanto mendapat nomor urut dua ketika mengambil undian nomor.
Peristiwa itu sempat memicu sedikit kericuhan karena sebagian pendukung Foke-Prijanto memprotes ketidakhadiran Adang-Dani. Mereka meminta KPU DKI Jakarta menyerahkan nomor urut satu kepada Foke-Prijanto dengan alasan bentuk penghormatan atas kehadiran pasangan tersebut.

Protes dan permintaan para pendukung Foke-Prijanto sebenarnya dapat dipahami mengingat nomor satu kerap diasosiasikan dengan segala hal yang berbau positif. Oleh sebagian masyarakat, nomor satu lazim diyakini sebagai nomor pembawa keberuntungan atau simbol kemenangan.

Hal inilah yang kemungkinan juga diyakini para pendukung Foke-Prijanto kala itu. Namun, KPU DKI Jakarta yang saat itu diketuai oleh Juri Ardiantoro, menolak permintaan kubu Foke.

Tak ada yang bisa menebak apa hasilnya jika KPU DKI Jakarta mengabulkan permintaan pendukung Foke-Prijanto. Yang pasti, kemenangan Foke-Prijanto saat itu diraih saat statusnya sebagai pasangan nomor urut dua.

Foke-Prijanto yang diusung oleh sejumlah partai besar seperti PPP, Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, PKB, dan PAN berhasil meraih 2.109.511 suara atau 57,87 persen dari total pemilih. Sedangkan, pasangan Adang-Dani yang didukung Partai Keadilan Sejahtera mendulang 1.535.555 suara atau 42,13 persen.
Nomor urut satu kembali memakan korban di Pilkada Jakarta berikutnya tahun 2012. Kali ini korbannya justru calon petahana Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli.

Foke yang saat itu didukung oleh lebih dari lima partai ternyata hanya mampu merebut 1.476.648 juta atau 34,05% suara pada Pilkada putaran pertama. Ia dan Nara, sapaan Nachrowi kalah dari pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mendapatkan 1.847.157 atau 42,60% suara.

Di putaran kedua, Foke kembali kalah setelah hanya berhasil meraih 2.120.815 atau 46,18% suara.

Walaupun demikian, mungkin terlalu sederhana ketika memprediksi pemenang Pilkada Jakarta 2017 nanti hanya berdasarkan nomor urut calon yang didapat oleh pasangan calon. Sebab bagaimanapun, kerja-kerja tim pemenangan tak bersandar pada hal-hal yang sifatnya mitos, apalagi mistik.

Kerja tim pemenangan sepenuhnya dilakukan berdasarkan pertimbangan politik yang logis. Ada perhitungan, ukuran, bahkan sebuah survei dalam setiap upaya mendulang suara warga.

Singkatnya, kerja tim pemenangan adalah kerja politik yang ditentukan oleh pertimbangan rasional sehingga hasilnya bisa dianalisis secara ilmiah.
Kekalahan Adang dan Dani, misalnya. Alih-alih dipicu oleh masalah angka, kekalahan mereka jelas lebih bisa dipahami lantaran hanya bersandar pada dukungan Partai Keadilan Sejahtera.

Sementara kekalahan Foke-Nara di Pilkada Jakarta 2012 tak lepas dari sentimen negatif warga Jakarta yang menganggap Foke sebagai petahana telah gagal selama memimpin ibu kota. Sentimen itu dibarengi oleh melejitnya popularitas Jokowi yang dianggap sukses saat menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jawa Tengah.
Kutukan Nomor Urut Satu di Pilkada JakartaRapat Pleno KPU DKI Jakarta menetapkan pasangan calon Pilkada DKI Jakarta di Balai Sudirman Jakarta, Senin, 24 Oktober 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Semua nomor bagus

Kuatnya faktor rasionalitas ini juga berlaku di Pilkada Jakarta 2017. Setidaknya, hal itu tercermin dari pernyataan para calon perihal nomor urut yang akan mereka dapatkan sore ini. Dari ketiga calon yang bertarung, tak satupun mempersoalkan nomor urut yang akan mereka dapatkan nanti.

Sambil menunjukkan isyarat angka-angka lewat jari tangannya, Ahok mengatakan, tidak mempermasalahkan nomor berapa yang akan diterimanya.

"Saya mah oke-oke saja, tidak masalah, mau tiga juga oke. Ahok oke-oke. Hahaha. Dua juga oke, dua periode katanya gitu kan. Kalau satu, loe jangan macam-macam loe," kata Ahok sambil menirukan nomor urut.

Sandiaga Uno yang maju sebagai calon wakil gubernur mendampingi Anies Baswedan juga melontarkan pernyataan serupa. Sandi mengaku tak mempersoalkan nomor urut yang bakal ia dapatkan sore ini.

Menurutnya, yang terpenting dari sekedar nomor urut adalah gagasan atau ide dari masing-masing pasangan calon. "Jangan sampai kita hanya terjebak simbol-simbol saja, nomor, muka kita, atau simbol kita," ujar Sandi.

Pasangan dari Poros Cikeas Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni tak kalah diplomatis saat ditanya soal nomor urut yang mereka inginkan.
Seperti Sandi, Agus menganggap semua nomor bagus. Ia tak mau ambil pusing soal nomor yang akan didapatnya nanti.

"Bagi saya semua nomor itu bagus. Semuanya penuh arti dan bukan nomor yang penting, tapi bagi saya adalah bagaimana kami berjuang, mengimplementasikan strategi yang kami susun dan kami bangun untuk bisa disampaikan pesan kepada masyarakat Jakarta. Itu yang paling penting," kata Agus.

Demikianlah para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta menyikapi pengundian nomor urut yang akan berlangsung sore nanti. Tak satu pun yang memberi ruang pada mitos atau keyakinan terhadap angka tertentu. Alih-alih, ketiganya justru terkesan tak mempedulikan nomor yang akan mereka dapatkan kelak.

Sikap ini memang sangat bisa dipahami. Apalagi dalam konteks Pilkada Jakarta yang konon, mayoritas pemilihnya, disebut-sebut sebagai pemilih yang rasional dan kritis.

Namun, terlepas dari rasionalitas para calon pemimpin Jakarta itu, fakta bahwa nomor urut satu selalu menghadirkan kegagalan bagi para pasangan calon, tetap menarik untuk diikuti. Sore nanti, publik akan mengetahui siapa yang akan mendapatkan nomor "kutukan" itu.

Tidak ada komentar: