Minggu, 02 Oktober 2016

Polisi Incar Doktor Lulusan Amerika "Marwah Daud Ibrahim" yang Lihat Sendiri Dimas Kanjeng Gandakan Uang sebagai saksi

Polisi Incar Doktor Lulusan Amerika yang Lihat Sendiri Dimas Kanjeng Gandakan Uang
JawaPos.com - Selain terus memeriksa Dimas Kanjeng Tata Pribadi, para penyidik Polda Jatim juga berencana melakukan pemeriksaan lanju­tan terhadap para saksi dalam kasus pengadaan uang ini. Polisi pun mengincar orang-orang terdekat Dimas Kanjeng yang diduga mengetahui penipuan penggandaan uang tersebut untuk dijadikan sebagai saksi. Salah satu yang akan diperiksa adalah Marwah Daud Ibrahim yang merupakan orang dekat Dimas Kanjeng dan kini menyandang sebagai Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
“Pokoknya, semua saksi dalam perkara ini akan diperiksa,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji. 
Sekedar diketahui, Marwah Daud Ibrahim ini pernah menjabat anggota DPR RI selama tiga periode, asisten peneliti UNESCO dan Bank Dunia. Dia juga doktor lulusan American University, Wa­shington DC. Selama ini Marwah sangat meyakini Dimas Kanjeng memiliki karomah bisa menggandakan uang. 
Bahkan dia menuturkan pernah melihat sendiri Dimas Kanjeng bisa mendatangkan uang seperti yang terekam dalam video selama ini. ''Uang itu tak hanya datang dari tangannya. Tapi, ada juga tiba-tiba datang peti berisi uang,'' ujar Marwah saat datang ke kantor Jawa Pos.
Kejadian gaib itu tidak hanya berlangsung di padepokan Dimas Kanjeng, namun juga di rumah para anggota atau pengikutnya. Marwah mengaku, uang bisa tiba-tiba datang di rumahnya. ''Tapi, beliau pesan agar tidak digunakan dulu,'' ujarnya
Hingga sekarang, Polda Jatim belum mengeluarkan angka pasti berapa jumlah korban penipuan dari Taat Pri­badi. Sebab sampai saat ini masih me­ nunggu info dari kepolisian lain terkait laporan korban.
“Kami sudah mendapat tiga laporan dari korban, dua kelompok dari Jember dan Situbondo sudah me­lapor dan korban dari Sulawesi Se­latan hari (Sore Kemarin, Red) sudah melapor,” terang Anton. 
Saat dikonfirmasi terkait uang palsu yang digunakan Taat Pribadi untuk menipu korbannya, pihaknya berkoor­ dinasi dengan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi ini merupakan kasus besar. 
“Kami berkordinasi dengan pakar hukum, untuk masalah uang palsu itu akan kerjasama dengan BI. Sebab, yang berhak menyatakan uang palsu atau bukan itu adalah pejabat BI yang bisa,” jelasnya. (don/no) 

Tidak ada komentar: