Minggu, 16 Oktober 2016

Profil Rival Piala AFF 2016 (1): Filipina dan Ambisi Besarnya untuk Menjadi Juara



Indonesia mendapat tiga lawan yang sangat berat di Grup A Piala AFF 2016 mendatang. Salah satunya tentu adalah sang tuan rumah, Filipina. Perkembangan sepak bola mereka yang begitu signifikan membuatnya menjadi salah satu tim favorit peraih gelar juara. Lalu bagaimana sesungguhnya kekuatan mereka? Bergas Agung membahasnya...
Setidaknya dalam satu dekade terakhir, Filipina mulai serius membenahi sepak bola mereka. Sadar dengan kemampuan pemain-pemain lokal yang dinilai tak terlalu mampu bersaing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, Filipina memilih untuk gencar melakukan naturalisasi untuk membuat tim nasional mereka menjadi lebih kuat. Selain itu, Filipina juga memanfaatkan talenta-talenta yang memiliki darah campuran dan tinggal serta memulai karier sepak bola di Eropa. Karenanya munculah nama-nama seperti Younghusband bersaudara, Neil Etheridge, hingga Mike Ott dan Luke Woodland.
Di sektor pelatih, sejak 20009 lalu Filipina selalu ditangani oleh pelatih asing. Dimulai dari Des Bulpin, Simon McMenemy, Michael WeiƟ hingga yang teranyar, Thomas Dooley. Dooley yang merupakan eks asisten pelatih Amerika Serikat inilah yang sejak 2014 lalu membuat The Azkals semakin kuat. Bahkan Filipina sudah mampu dibuatnya mampu membantai Indonesia dan mengimbangi Thailand. Saat ini Dooley dan anak-anak asuhnya tengah mengincar gelar AFF Suzuki Cup 2016. Lantas bagaimana peta kekuatan Filipina untuk bisa mewujudkan ambisi besar itu?
Filipina sudah jauh berubah             
September 2006, Filipina berada di peringkat FIFA terburuk dalam sejarah sepak bola mereka, yakni di peringkat 196. Namun sejak itu, mereka mulai berbenah dan mempersiapkan tim nasional yang begitu kuat agar mampu bersaing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Awal pengembangan itu adalah dengan memutuskan tidak ikut serta dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2010 dan juga sebelumnya kualifikasi Piala Dunia 2006. Presiden Federasi Sepak Bola Fietnam (PFF) mengatakan jika keputusan absennya mereka didasari karena mereka ingin fokus mengembangkan tim nasional pada kompetisi domestik dan regional.

September 2006, Filipina berada di peringkat FIFA terburuk dalam sejarah sepak bola mereka, yakni di peringkat 196. Namun sejak itu, mereka mulai berbenah
Tak lama berselang, Filipina tampil baik di kualifikasi Piala AFF 2007. Walau di putaran final Piala AFF 2007 menelan dua kekalahan dan hanya satu kali imbang, namun peringkat FIFA mereka melonjak ke peringkat 171. Naasnya, pada tahun 2008 mereka justru harus absen di dua kompetisi penting yakni AFC Challange Cup 2008 dan Piala AFF 2008. Hal itulah yang menjadi tongggak sesungguhnya perbaikan sepak bola mereka.
Setelah tahun penuh kegagalan itu, PFF mengangkat salah satu pengusaha ternama di Filipina, Dan Palami, untuk menjadi manajer timnas mereka. Palami kemudian langsung melakukan banyak perubahan. Dirinya melakukan investasi keuangan untuk timnas dengan uang pribadinya. Selain itu dirinya juga membuat sebuah projek bernama Project 100 yang menargetkan Filipina untuk menembus peringkat 100 FIFA. Selain itu, ia mulai memanggil pemain-pemain berdarah Filipina yang tinggal di Eropa untuk mau bermain bersama The Azkals.

Filipina bukan lagi lumbung gol negara-negara kuat Asia Tenggara berkat transformasi besar yang dilakukan pada 2008 lalu
Dan Palami membuat sebuah projek bernama Project 100 yang menargetkan Filipina untuk menembus peringkat 100 FIFA. Selain itu, ia mulai memanggil pemain-pemain berdarah Filipina yang tinggal di Eropa untuk mau bermain bersama The Azkals
Proyek ambisius Palmi akhirnya membuahkan hasil di Piala AFF 2010. Filipina secara mengejutkan untuk pertama kalinya mampu menembus babak semifinal dibawah asuhan Simon McMenemy. Namun mereka kala itu harus takluk dari Indonesia setelah harus bermain dua kali di Senayan, Jakarta, karena ketidaklayakan kandang mereka sendiri. Tapi penampilan heroik mereka di babak grup benar-benar hebat: mereka tak terkalahkan dan bahkan mampu menumbangkan Vietnam.
Sejak itu, The Azkals selalu berhasil lolos ke babak semifinal AFF Suzuki Cup dan menjadi salah satu kandidat peraih gelar juara. Mengalahkan Indonesia, Vietnam, dan mampu mengimbangi Thailand bukanlah sesuatu yang asing untuk mereka saat ini. Selain itu, Filipina saat ini merupakan negara dengan peringkat FIFA tertinggi di regional Asia Tenggara.
Pemanggilan pemain-pemain keturunan, tonggak bangkitnya Filipina         
Project 100 yang dicanangkan Dan Palami salah satu langkah kerjanya adalah dengan memanggil pemain-pemain yang memiliki darah Filipina namun tinggal di Eropa untuk mau membela The Azkals. Sejak saat itu, banyak nama-nama pemain keturunan yang membela Filipina. James Younghusband dan Philip Younghusband adalah yang paling tenar. Bagaimana tidak, kedua kakak-beradik itu adalah jebolan akademi raksasa Premier League, Chelsea. Bahkan keduanya sempat berkarier di kompetisi muda Inggris, dan spesial untuk Philip, dirinya pernah menjadi top skorer Chelsea junior.
Lalu ada pula nama Neil Etheridge yang mengawali karier bersama akademi Chelsea. Kemudian di level senior, Neil juga mampu menembus tim senior klub Premier League saat itu, Fulham. Bahkan pemain yang berposisi sebagai kiper itu pernah bermain di ajang Europa League pada musim 2011/12 saat Fulham menghadapi Odense Boldklub. Selain Neil, ada pula Jason de Jong yang merupakan pemain Filipina keturunan Belanda. Pemain ini pernah menimba ilmu di salah satu klub Eredivisie, NAC Breda. Menariknya, Jason juga pernah berkarier di Indonesia pada tahun 2011 dengan membela Persiba Balikpapan. Selain nama-nama tersebut, ada pula nama Rob Gier, Christopher Greatwich, Ray Anthony Jonsson, hingga Mark Drinkuth.
image: http://images.cdn.fourfourtwo.com/sites/fourfourtwo.com/files/styles/inline-image/public/philippines_19skdtkds862b1mcpneqfrbj0l_1.jpg?itok=k6H-sOo1
Tak sedikit pemain keturunan dan naturalisasi yang dipanggil 'pulang' untuk membela The Azkals
Kumpulan pemain-pemain di ataslah yang membuat Filipina mampu menembus semifinal pertama kali di ajang Piala AFF pada edisi 2010. Menjelang Piala AFF 2016, dari nama-nama itu, yang tersisa hanya tinggal Younghusband bersaudara yang masih memimpin pasukan The Azkals. Namun saat ini, The Azkals justru lebih kuat. Selain tetap memiliki pemain-pemain keturunan, mereka juga memiliki banyak pemain-pemain naturalisasi asal Eropa maupun Amerika yang tentunya memiliki kemampuan di atas rata-rata. Nama-nama macam Mike Ott, Martin Steuble, hingga Patrick Reichelt merupakan beberapa nama di antaranya.

Tidak ada komentar: