Jumat, 07 Oktober 2016

Saksikan Operasi Angkasa Yudha, Presiden Jokowi ke Natuna

Kamis, 06 Oktober 2016 | 08:36
      Email
Presiden Joko Widodo.
Presiden Joko Widodo. (Antara/Widodo S Jusuf)
Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Kamis (6/10) bertolak menuju Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau untuk kunjungan kerja.
Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 yang membawa Presiden Jokowi beserta rombongan bertolak dari Base Ops Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma menuju Bandara Ranai, Kepulauan Natuna, pada sekitar pukul 07.00 WIB.
Selama berada di Kepulauan Natuna, Presiden Jokowi akan menyaksikan Operasi Angkasa Yudha 2016 yang digelar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam rangka HUT ke-71 TNI . Operasi Angkasa Yudha akan melibatkan 2.200 personel dan 48 unit pesawat tempur.
Ke-48 unit pesawat tempur itu berasal dari tujuh skuadron udara TNI AU, yaitu Skuadron Udara 3 TNI AU (F-16 Fighting Falcon Block 15OCU/Iswahyudi), Skuadron Udara 15 TNI AU (T50i Golden Eagle/Iswahyudi), Skuadron Udara 1 TNI AU (Hawk 109 dan 209/Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak), dan Skuadron Udara 16 TNI AU (F-16 Fighting Falcon Block 52ID/Pangkalan Udara Utama TNI AU Rusmin Nurjadin, Pekanbaru).
Selain itu, Skuadron Udara 11 TNI AU (Sukhoi Su-27-30MKI Flankers/Pangkalan Udara Utama TNI AU Hasanuddin, Makassar) dan Skuadron Udara 21 TNI AU (EMB-314 Super Tucano/Pangkalan Udara Utama Abdulrahman Saleh, Malang).
Presiden Jokowi juga dijadwalkan meninjau lokasi rencana pembangunan cold storage penyimpanan ikan hasil tangkapan nelayan berkapasitas 3.000 ton di Selat Lampa.
Mendampingi Presiden di antaranya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Novy Lumanauw/JAS

Presiden Jokowi saksikan latihan tempur TNI AU

Dalam kunjungan ke Natuna, Presiden Joko Widodo menyaksikan latihan tempur TNI serta meresmikan pengoperasian terminal Bandar Udara Ranai.Peresmian Bandar Udara Ranai, Kamis (06/10), di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Natuna, sekaligus menandai dibukanya penerbangan komersial di Kabupaten Natuna.
Di bandara, Jokowi melakukan peninjauan static show peralatan tempur. Di atas panggung acara, Presiden juga menyaksikan manuver latihan tempur TNI Angkatan Udara.
Jokowi, dalam sambutannya, mengatakan, Indonesia sudah saatnya memandang laut dan langit sebagai penghubung dan pemersatu Indonesia dan bukan sebagai pemisah, demikian rilis Kepala biro pers, media dan informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin.
"Sehingga hubungan konektivitas antar kota provinsi, kota, kabupaten dibutuhkan karena tanpa konektivitas kita akan tertinggal," kata Presiden.
Menurutnya, Bandara Ranai menjadi jembatan udara antara Natuna dan Tanjung Pinang, Batam, dan provinsi serta kabupaten maupun kota yang lain.

Simbol pertahanan kedaulatan

Presiden juga mengharapkan dengan bandara ini maka mobilitas barang dan pengiriman logistik akan lebih cepat dan murah.
Pemerintah, tambahnya, mulai membangun kawasan perikanan di Selat Lampat yang masih berada di kawasan Natuna, dengan luas lebih dari 100 hektar.
Dia mengharapkan pada pertengahan tahun depan, kawasan perikanan dapat diresmikan dan akan memberikan dampak ekonomi yang baik untuk kawasan masyarakat Natuna.
Sementara Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan Ranai akan menjadi bandara yang penting karena berada di kawasan paling Utara Indonesia.
Sehingga, lanjutnya, bandara ini dibutuhkan untuk meningkatkan mobilitas dan menjadi simbol pertahanan kedaulatan.
"Bandara ini di Natuna dan sangat strategis dilihat dari letaknya. Di bandara ini baru ada dua maskapai, jadi setelah ini kami akan berupaya untuk membuat agar maskapai besar seperti Garuda Indonesia untuk bisa datang ke sini," ujar Budi.

Tidak ada komentar: