Selasa, 04 Oktober 2016

Turki Buka Peluang Indonesia Bangun Kapal Pembangkit Listrik

01 Oktober, 2016 dibaca normal 1 menit
Turki Buka Peluang Indonesia Bangun Kapal Pembangkit Listrik Ilustrasi. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat.
tirto.id - Karadeniz Powership yang merupakan perusahaan pembangun kapal pembangkit listrik terkemuka di Turki membuka kesempatan kepada industri di Indonesia untuk menjadi bagian dari mitra kerja dalam membangun kapal pembangkit listrik serta memasarkannya ke negara-negara ASEAN.

"Tawaran kami tidak hanya membangun kapal pembangkit di Indonesia melalui mitra kerja tetapi transfer teknologi sehingga tumbuh industri di Indonesia yang mensuplai berbagai komponen pendukung dan pendidikan bagi ahli-ahli Indonesia," kata CEO Karadeniz Powership Orhan Rezmi di Istanbul, Jumat (30/9/2016).

Menurut Orhan, perusahaannya mempunyai komitmen untuk membantu Indonesia dalam membangun kapal pembangkit listrik. Ini menjadi solusi yang cepat dan murah untuk memberikan distribusi listrik ke sejumlah daerah.

"Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar, namun punya masalah dalam distribusi listrik sehingga kapal pembangkit yang mudah dipindahkan menjadi solusinya," kata Orhan saat menerima belasan media di Kantor Pusatnya di Kahithane, Istanbul.

Pembangunan pembangkit di atas kapal, menurutnya, hanya dibutuhkan waktu perakitan sekitar 3 sampai 4 bulan atau jauh lebih cepat jika membangun pembangkit di darat yang memerlukan waktu 4 sampai 5 tahun.

Penyataan itu sekaligus untuk menjawab harapan Presiden Joko Widodo yang meminta agar kapal keenam yang akan dikontrak Pemerintah untuk mensuplai listrik di sejumlah daerah itu dibuat bekerja sama dengan BUMN antara lain PT PAL Indonesia.

Pemerintah Indonesia melalui PLN melakukan kontrak pembelian listrik dengan total kontrak 540 Megawatt dari lima kapal pembangkit milik Karpowership. Salah satu kapal yang sudah beroperasi di Amurang, Minahasa untuk membantu pasokan listrik di dua provinsi yaitu Gorontalo dan Sulawesi Utara sebesar 96 Megawatt dari kapasitas maksimal pembangkit sebesar 120 Megawatt.

Orchan menjelaskan, pada tahun pertama operasional kapal pembangkit yang dikontrak PLN dilakukan oleh pekerja Karpowership, namun selanjutnya akan dilakukan pelatihan bagi tenaga ahli lokal sehingga peran tenaga asing semakin berkurang.

"Bukan tidak mungkin semua dilakukan tenaga ahli lokal yang telah diberikan pelatihan," katanya.

Peran tenaga ahli Karpowership pada masa awal kontrak, menurut Orchan untuk menjamin mesin pembangkit bekerja dengan baik sekaligus memberikan pendampingan lebih dulu bagi pekerja lokal.

Ia menjelaskan, sampai saat ini Karpowership telah membangun 13 kapal yang dipesan sejumlah negara dengan total kapasitas 2.700 Megawatt sejak tahun 2003. Sementara kapal pembangkit yang saat ini dalam tahap konstruksi di sejumlah galangan kapal mencapai 5.000 Megawatt. (yan/yan)

Tidak ada komentar: